Bahaya Kartu Kredit, Itu Hanya Mitos atau Fakta?

Pernah ga si Anda lihat ada anak-anak usia antara enam hingga tujuh tahun, yang masih duduk dibangku SD, dan lagi imut-imutnya bawa motor di jalan-jalan besar? Saya sendiri termasuk orang yang suka gemes sendiri ngeliat fenomena kayak gini. Paling cuma bisa ngomong dalem hati “duh ini orang tuanya gimana coba?“, sambil tepuk jidat.
Fenomena di atas, ada kaitannya dengan topik yang akan kita bahas kali ini. Ketika namanya kartu kredit jatuh ditangan orang yang salah. Bukannya kebebasan finansial yang didapat, malah jeratan hutang yang semakin meningkat.
Saya sendiri sudah banyak melihat orang-orang yang terlilit hutang lantaran ia tidak dapat mengendalikan dirinya pada saat menggunakan kartu kredit. Penyakitnya satu, yaitu laper mata. Ada barang unyu sedikit, sikat. Ada barang diskon dikit, embat. Ada barang baru launching, beli. Tepuk jidat deh.
Baca juga: Tips 7 Cara Menghindari Jebakan Diskon Akhir Tahun
Nah saya menyarankan agar beberapa tipe orang ini, sebaiknya tidak diberikan kartu kredit. Jika dalam hati kecil Anda berkata “duh kok gue banget, yang ada ditulisan ini“. Sebenarnya saya sendiri bukan tipe orang yang anti banget dengan kartu kredit. Saya pun menggunakan kartu kredit sebagai media pembayaran untuk beberapa tools, guna menunjang operasional blog ini.
Jujur saja beberapa kegiatan transaksi pembayaran di luar negeri, apalagi terkait IT. Kami (saya dan beberapa teman saya) kesulitan membayar dengan metode pembayaran transfer antar rekening bank. Kebanyakan para penyedia layanan jasa IT, masih banyak didominasi dengan pembayaran dengan metode kartu kredit.
Tapi percayalah. Di tangan orang yang “salah” sebagai pemegang kartu kredit. Bikin geleng-geleng kepala dan tepuk jidatnya sama dengan kasus anak SD yang bawa motor di jalan besar tadi.

Berikut ini adalah beberapa tipe orang yang bahaya jika diberikan kartu kredit:

1. Orang yang Tidak Dapat Membedakan Antara Kebutuhan dan Keinginan

Jangan berikan kartu kredit kepada orang tidak dapat membedakan mana kebutuhan dan keinginan

Jangan berikan kartu kredit kepada orang tidak dapat membedakan mana kebutuhan dan keinginan


Tipe pertama adalah orang yang paling berbahaya jika memiliki kartu kredit, yaitu adalah orang dengan tipe yang tidak dapat membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Bisa dibilang jika ia memiliki kartu kredit, itu musibah bagi dirinya, surga bagi bank penerbit kartu kredit.
Sebenarnya kartu kredit memiliki fungsi atau sisi positif. Misalnya ada di antara keluarga Anda, ada yang sedang sakit. Lantas membutuhkan dana yang tidak sedikit. Sedangkan Anda perlu membayar biaya rumah sakit tersebut segera. Anda dapat menggunakan kartu kredit ibaratnya untuk meng-cover biaya rumah sakit tersebut.
Baca juga: Butuh Uang Cepat? Coba Gadai Emas Saja!
Bulan depan ketika tagihan sudah keluar, Anda dapat membayarnya. Nah kejadian seperti anak, istri, suami, atau orang tua yang sakit terkadang memang tidak terduga. Sehingga ketika membutuhkan dana yang cukup besar saat itu, Anda dapat memanfaatkan kartu kredit.
Lain hal, pada orang tipe pertama ini. Ia lebih suka membayar segala sesuatunya dengan kartu kredit. Misalnya makan di restoran, belanja bulanan, beli pakaian, dan seterusnya. Padahal jika ditelusuri lebih lanjut, makan di rumah jauh lebih hemat, belanja bulanan bisa dengan uang cash, dan membeli pakaian atau aksesoris tidak perlu sebulan sekali, mungkin bisa tiga atau enam bulan sekali.
Jika Anda merasa golongan tipe pertama ini, lebih baik stop untuk menggunakan kartu kredit. Itu saran dari saya. 🙂

2. Orang yang Suka Menunda-nunda dalam Membayar Tagihan Kartu Kredit

Suka menunda tagihan kartu kredit? Lebih baik jangan pakai kartu kredit!

Suka menunda tagihan kartu kredit? Lebih baik jangan pakai kartu kredit!


Tipe kedua adalah orang yang suka menunda-nunda dalam membayar kewajiban kartu kredit. Tipe orang yang sering bilang “tar sok” atau entar besok. Idealnya ketika Anda bertransaksi dengan menggunakan kartu kredit, Anda akan mendapatkan notifikasi berupa sms, email, dan surat yang dikirimkan ke alamat rumah.
Tertera di dalam isi surat yang dikirimkan oleh pihak bank, kapan waktu jatoh tempo pembayaran kartu kredit. Tipe orang kedua ini biasanya deadliner. Orang yang suka menunda pekerjaan atau menyelesaikan pekerjaan mendekati batas waktu yang ditentukan.
Bahaya dari para deadliner ini terkait hobi mereka yang suka menunda-nunda dalam membayar kewajiban kartu kredit adalah pada saat batas waktu pembayaran kartu kredit dan ternyata bersamaan dengan tugas kantor yang menumpuk. Karena skala prioritas dan pembagian tugas tidak dibuat dalam catatan yang disusun dengan rapih.
Baca juga: Ingin Menjalankan Bisnis Bersama Teman, Perhatikan Hal-hal Berikut Ini Dulu!
Alhasil, ia lebih mementingkan tugas kantor dibandingkan membayar tagihan kartu kredit atau bisa juga ia lupa karena banyaknya tugas kantor sehingga pembayaran kartu kredit ter-pending keesokan harinya. Dan karena terjadi keterlambatan pembayaran, alhasil ia harus membayar uang penalti atas keterlambatan pembayaran kartu kredit.
Kalau baru sehari dua hari bunganya si mungkin kecil, tapi percayalah bunga itu apabila tumbuh sumbur. Utang Anda akan semakin bertambah dan sulit untuk melunasinya. Apakah Anda merasa berada di tipe nomor kedua ini? Jika iya, saya menyarankan untuk segera tinggalkan kebiasaan sebagai deadliner atau jangan pergunakan kartu kredit.

3. Orang yang Suka Lupa dengan Kewajiban dalam Membayar Kartu Kredit

Bank tidak menerima alasan lupa bayar tagihan kartu kredit, terlambat? Ya, kena denda!

Bank tidak menerima alasan lupa bayar tagihan kartu kredit, terlambat? Ya, kena denda!


Tipe orang ketiga ini antara ia memang beneran lupa atau pura-pura lupa beda tipis bro! Hehe. Bank sendiri tidak memberikan toleransi apabila tagihan Anda sudah masuk jatuh tempo. Suka atau tidak suka, bunga bank akan meningkat berkali-kali lipat selama “masa lupa” tadi.
Saran saya bagi mereka yang sibuk agar tidak kelupaan ketika ada tagihan kartu kredit. Kadang suka malas ya membaca surat yang dikirimkan oleh pihak bank? Buang rasa malasnya, lalu baca informasi yang tertera pada isi surat. Pada kotak atau kolom yang menginformasikan tentang tanggal jatuh tempo, segera buat reminder di smartphone agar ketika tanggal jatuh tempo,  berdering memberikan notifikasi hari ini harus membayar tagihan kartu kredit.
Jika reminder di smartphone belum cukup, Anda dapat meminta bantuan kepada orangtua, suami, istri, atau kakak Anda yang “bawel”, untuk mengingatkan bahwa hari ini Anda harus membayar tagihan kartu kredit. Jika Anda seorang profesional dan memiliki asisten pribadi, mungkin asisten pribadi Anda yang akan membaweli Anda. 😛

4. Orang yang Mudah Terpengaruh dengan Tayangan Iklan Diskon dan Promo

Mudah terpengaruh oleh diskon dan promo? Hati-hati mendingan jangan pakai kartu kredit orang dengan tipe ini!

Mudah terpengaruh oleh diskon dan promo? Hati-hati mendingan jangan pakai kartu kredit orang dengan tipe ini!


Tipe orang keempat ini, bisa dibilang adalah tipe konsumen yang paling disukai oleh para pemasar. Mereka hobi sekali menonton televisi, mendengar radio, dan membaca selembar koran. Demi mencari informasi diskon potongan harga dan promo barang-barang tertentu.
Mereka berpikir dengan mencari informasi tentang diskon atau promo tertentu, dapat menghemat pengeluaran bulanan. Sejauh ini tidak ada yang salah dengan pemikiran mereka, namun apabila mereka tidak mengetahui harga asli dari barang tersebut sebelum dibumbui diskon dan promo.
Bisa saja hitungan mereka menjadi salah. Kegiatan promosi memang didesain oleh para pemasar dengan semenarik mungkin. Konsep para pemasar sederhana, yaitu dengan merangsang dan memunculkan AIDA (Attention, Interest, Desire, dan Action).
Baca juga: Daftar Harga Sewa 15 Safe Deposit Box Terlengkap Di Bank Swasta Indonesia
Di lingkungan terdekat saya sendiri, beberapa perilaku ibu-ibu yang saya amati di hari weekend. Salah satunya yaitu nonton di depan televisi, sambil membuka channel salah satu program televisi swasta yang menawarkan produk barang atau jasa tertentu. Tanpa sebut nama dari channel televisi tersebut, pastinya Anda sudah tahu kan?
Nah yang bikin saya tepok jidat adalah manakala pembawa acara televisi tersebut berkata: “Ayo diskon khusus ini barangnya tinggal 10 lagi, bagi pengguna kartu kredit ada diskon tambahan. Segera telepon Customer Service kami atau Anda akan kehabisan!”, kalimat yang mengandung unsur hypnosis tersebut seolah menggerakan ibu-ibu yang sedari tadi saya amati.
Sambil memegang gagang telepon dan mencoba menelpon berulang kali si customer service dari program televisi tersebut. Ia sampai kesal sendiri karena teleponnya tidak kunjung di angkat. Tidak ada yang salah dari berburu diskon atau promo, namun sebelum membeli suatu barang atau jasa tertentu pastikan hal tersebut sesuai dengan kebutuhan Anda. Kalau tidak bisa membedakan mana yang kebutuhan dan keinginan. Ya, kembali ke poin pertama tulisan ini.

5. Orang yang Menyepelekan Bunga Kartu Kredit

Bagi yang suka menyepelekan bunga kartu kredit, saya cuma bisa elus-elus dada dan tepok jidat euy!

Bagi yang suka menyepelekan bunga kartu kredit, saya cuma bisa elus-elus dada dan tepok jidat euy!


No comment. Kalau ada orang tipe seperti ini, mendingan jauh-jauh dari yang namanya kartu kredit!

6. Orang dengan Pendapatan yang “Pas-pasan

Yakin udah butuh kartu kredit? Kenali dulu pengeluaran rutin setiap bulan Anda!

Yakin udah butuh kartu kredit? Kenali dulu pengeluaran rutin setiap bulan Anda!


Sebelum memutuskan untuk mengajukan kartu kredit. Ada baiknya Anda benar-benar mengetahui biaya pengeluaran rutin setiap bulan. Pastikan pos-pos untuk menabung dan investasi rutin setiap bulan tetap bisa Anda lakukan.
Jangan sampai dua pos penting tersebut kosong cukup lama, lantaran habis dimakan oleh pos pengeluaran untuk membayar cicilan kartu kredit.

7. Orang yang Ceroboh Ketika Melakukan Proses Pembayaran Menggunakan Kartu Kredit

Jangan suka sembarangan dan tetaplah berhati-hati ketika melakukan proses pembayaran menggunakan kartu kredit!

Jangan suka sembarangan dan tetaplah berhati-hati ketika melakukan proses pembayaran menggunakan kartu kredit!


Poin ketujuh ini tipe orang yang teledor bin ceroboh pada saat melakukan proses pembayaran dengan menggunakan kartu kredit. Perlu Anda ingat kembali bahwasannya kartu kredit berbeda dengan kartu debit.
Apabila Anda menggunakan kartu debit, sistem akan melakukan otentikasi dengan menanyakan PIN. Orang yang memiliki otoritas-lah yang dapat menggunakan kartu debit tersebut.
Lalu bagaimana dengan kartu kredit? Jika seseorang mengetahui nama, alamat lengkap Anda, nomor HP, lalu card number beserta CVC yang tertera pada kartu kredit. Wuzz, secepat kilat orang yang tidak memiliki otoritas dari pemilik kartu kredit dapat menggunakan kartu tersebut untuk transaksi.
Baca juga: Mengungkap Peluang Tersembunyi Dibalik Kelebihan Perak Dibandingkan Emas
Istilah pencurian semacam ini, bisa dibilang kejahatan carding. Memang di Indonesia beberapa website e-commerce menggunakan sistem keamanan otentikasi canggih.  Semisal apabila ada transaksi menggunakan kartu kredit maka pihak bank akan mengirimkan sms kode otentikasi ke si pemilik kartu, lalu si pemilik kartu memasukan kode tersebut untuk melanjutkan proses pembayaran.
Oke itu di Indonesia, lantas bagaimana di luar negeri apakah sistem keamanan seperti itu berlaku? Sayangnya tidak! Hanya bermodal nama pemilik kartu, card number, dan CVC kartu kredit bisa dipakai oleh siapapun! So, pastikan jika ada transaksi mencurigakan atau Anda tidak pernah melakukan transaksi tersebut. Segera lapor ke bank penerbit kartu kredit Anda.

Semoga ketujuh tipe orang yang sebaiknya tidak memiliki kartu kredit tersebut bisa menambah wawasan Anda. Jika Anda nilai tulisan ini bermanfaat, mohon bagikan tulisan ini melalui sosial media seperti Facebook, Twitter, Google Plus, LinkedIn, dan Path agar teman-teman Anda mengetahuinya juga.
Tidak ingin ketinggalan tulisan dari TheGold.Asia? Subscribe blog ini dengan cara memasukan nama lengkap dan alamat email di kotak form yang tertera di bawah artikel ini. Dan kami akan memberikan setiap minggunya tulisan terbaru dari TheGold.Asia untuk Anda melalui email yang telah didaftarkan sebelumnya.