Saat ini namanya berperang sudah tidak lagi adu fisik, jotos-jotosan, pukul-pukulan, dan seterusnya. Peperang di dunia modern lebih kepada perang pemikiran, perang keyakinan, ideologi, kebudayaan, dan macam-macam.
Cerita kisah tentang peperangan mata uang merupakan salah satu contoh bentuk peperangan antar negara namun sedikit orang yang menyadarinya. Mengapa demikian? Karena terlalu smooth, dikemas secara baik, dan terlihat everything is fine dan seperti “ga ada apa-apa”.
Dalam ungkan anak muda, dibalik kata “ga ada apa-apa”, tersirat kode yang menunjukan ada apa-apa. Betul ya? Terus klo cowonya ga ngerti juga udah dikasih kode, cewenya bilang, “Dasar cowo ga peka!”
Nah sama dengan peperangan mata uang, yang kali ini membuat rupiah terjelembab. Ibu pertiwi yang diwakilkan dengan mata uang rupiahnya. Terkena efek cinta segitiga, bingung memilih harus tetap memegang Dollar atau Yuan.
Di satu sisi, Si Dollar sedang semakin kuat dan membuat cinta tak sampai. Di satu sisi yang lain, Yuan sedang di-devaluasi oleh pemiliknya. Sebenarnya strategi devaluasi itu gunanya apa ya terkait dengan peperangan mata uang ini?
Pemerintah Tiongkok melakukan devaluasi bertujuan untuk menguasai pasar dunia, salah satu di dalamnya. Ya, Indonesia ini. Sebagai salah satu pasar dunia, dengan jumlah penduduk yang besar, SDA yang berlimpah, namun dengan SDM yang bisa dibilang masih rendah.
Ketika suatu negara melakukan devaluasi mata uangnya. Maka nilai dari uang tersebut akan lebih rendah di mata negara-negara lain. Sehingga negara mitra dagang dan Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor terbesar di Dunia, mendapatkan angin segar dari timur.
Contoh sederhana ya. Ada dua buah smartphone, yaitu Apple dan Xiaomi. Dari segi fitur dan kualitas hampir sama dan bersaing. Secara spesifikasi, kecanggihan teknologi, dan seterusnya bersaing secara ketat. Dari soal harga yang satu sepuluh juta rupiah produk Apple, dan yang satu lagi lima juta rupiah Xiaomi. Kira-kira Anda akan lebih memilih yang mana?
Tentu sudah bisa dipastikan, Anda akan memilih yang lima jutakan? Nah contoh di atas merupakan gambaran saja tentang impor barang yang dibutuhkan oleh Indonesia. Dalam contoh yang lebih real tentu saja barang-barang impor dari negeri Tiongkok tidak hanya soal teknologi saja. Tetapi juga barang-barang lain yang dibutuhkan oleh Indonesia.
Ada guyonan yang menyatakan bahwa 99% barang yang diproduksi di dunia itu adalah produksi dari Tiongkok. Hal itu menandakan bahwa pemerintah Tiongkok sangat mendorong sekali agar produk-produk yang dihasilkan dari dalam negerinya dapat diterima oleh semua kalangan orang di dunia.
Ketika harga-harga barang dari Negeri Tiongkok menjadi lebih rendah dibandingkan negara lain, efek devaluasi mata uang. Otomatis negara mitra dagang Tiongkok (negara-negara yang membutuhkan impor) akan lebih memilih produk dari Negeri Tiongkok dibandingkan dari negara-negara lain yang mata uangnya lebih kuat.
Di sisi lain, otomatis harga-harga barang-barang impor di Negeri Tiongkok akan lebih mahal. Sehingga membuat iklim impor di negeri tersebut menjadi loyo. Alhasil, mereka harus menggenjot produksi mereka sehingga memiliki produk dengan kompetisi yang unggul dan harus menciptakan swasembada di negerinya.
Well, kurang lebih itulah yang terjadi saat ini. Peperangan mata uang sendiri bukan kali ini saja terjadi. Akan tetapi sudah berulang kali dan kita bisa lihat sendiri dan belajar dari sejarah mata uang berbelas atau berpuluh tahun yang lalu. Menurut Anda fenomena perang mata uang ini seperti apa?