Ada ungkapan yang sering kita dengar dahulu bahwa “Buah tak akan jatuh jauh dari pohonnya”. Inilah ungkapan pribahasa yang memiliki arti bahwa sifat anak tidak jauh dari orangtuanya. Benarkah seperti itu?

an mengapa hal tersebut bisa terjadi? Bagi yang belum membaca artikel ini coba dibaca terlebih dahulu Pembentukan pola pikir dari orang tua. Bagi yang sudah membacanya bisa melanjutkan membaca artikel ini hingga tuntas. 😉 Mari kita lanjutkan lagi, pada artikel sebelumnya dijelaskan bahwa interaksi orangtua kepada anaknya adalah proses awal si anak belajar untuk bersosialisasi.

Pada tahap tersebut anak belajar dari semua tingkah laku yang dilakukan oleh orangtuanya atau dalam kata lain orangtua menjadi role model bagi si anak. Misalnya si orangtua merokok maka anak akan cendrung meniru tingkah lakunya awalnya mungkin hanya dengan sebatang pensil/pulpen yang seolah-olah sebagai alat pengganti rokok, kemudian rasa penasaran kian bertambah dan ingin mencoba dengan yang aslinya alhasil si Anak merokok juga.

Maka orangtua perlu menyadari setiap tindakan sehari-hari yang dilakukan apabila ada anak hadir dan melihat Anda maka sikap yang ditunjukan juga harus berbeda dengan ketika Anda bertemu dengan rekan kerja atau teman-teman sebaya Anda. Beberapa faktor ini yang mengapa mereka (anak-anak) menjadikan Anda sebagai role model bagi mereka:

1. Kuantitas Waktu atau Intensitas Bertemu dengan mereka

Parent are role model by child

Orangtua adalah contoh bagi Anak

Sebagai orangtua sudah semestinya kita memiliki kuantitas waktu atau intensitas bertemu dengan anak lebih lama daripada siapapun, terutama ketika si anak masih beraktivitas bukan ketika mereka sedang terlelap tertidur saja Anda baru menemani mereka. Jika Anda memiliki babysitter atau penjaga anak, yang perlu Anda sadari tingkah laku dari sang babysitter juga akan ditiru oleh si Anak. Jadi apapun yang pengasuh atau babysitter lakukan, katakan, dan si anak melihat, mendengar, dan rasakan hal tersebut bisa menjadi believe dan tersimpan di memory pikiran bawah sadar.

0-13 Tahun adalah masa di mana informasi yang masuk kedalam pikiran mereka akan lebih mudah diterima oleh pikiran bawah sadar karena pikiran sadar dan filter (critical area) belum bekerja secara optimal. Maka penanaman nilai-nilai dasar dan agama sangat bagus pada usia 0-13 tahun ini. Pada usia ini juga disebut sebagai golden age, akselerasi pembentukan karakter anak untuk menjadi sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orangtua dapat berlangsung dengan cepat apabila pada golden age tersebut orangtua memaksimalkannya dengan baik.

2. Mereka mudah mepercayai apapun yang Anda katakan

Anak mudah percaya

Anak mudah percaya

Apapun yang Anda katakan kepada mereka, pada dasarnya mereka akan sangat mudah sekali percaya kepada Anda. Mengapa hal tersebut bisa terjadi? Karena nalar atau pola pikir seorang anak belum terbentuk secara matang. Di dalam kepalanya belum banyak terisi informasi yang berkaitan dengan apa yang akan Anda katakan kepada mereka. Apakah ini berita baik? Ya, tentu saja ini menjadi berita baik bagi Anda, karena Anda bisa memberikan kata-kata positif yang membangun jiwanya untuk menjadi pribadi yang tangguh.

Dan apakah ini berita buruk? Bisa jadi berita buruk juga apabila Anda dengan seenaknya berkata tanpa memikirkan dampak psikologis si anak kedepan seperti apa. Karena jika Anda berharap mendapatkan anak yang sabar, dan periang. Maka pantaskah Anda menempa mereka dengan omelan dan marahan? Bisa jadi jika Anda menempa mereka dengan cara-cara seperti itu anak kedepan akan meniru sikap dan perilaku Anda, menjadi tempramen dan mudah marah loh… 😀 Coba perhatikan bacaan berikut:

Anak-anak Belajar dari Kehidupannya

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.
Jika anak dibesarkan dengan hinaan, ia belajar menyesali diri.
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan, ia belajar keadilan.
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan.
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi dirinya.
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan.
Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

3. Anda lebih hidup dan nyata dibandingkan toko imajinatif mereka

Anda lebih nyata dibandingkan Captain America

Anda lebih nyata dibandingkan Captain America

 Anak dalam masa pertumbuhannya akan selalu mencari role model yang membentuk kepribadiannya, biasanya yang terlihat keren akan dicontoh olehnya. Misalnya captain america, spiderman, satria baja hitam, dll. Biasanya toko heroic pembasmi kejahatan. Jika orang atau tokoh yang menjadi idola pindah dari yang seharusnya orangtua sebagai role model dan tokoh heroic bagi mereka, Anda perlu mewaspadai hal tersebut? Mengapa? Coba simak berita berikut ini:

Dilarang Nonton Spider-Man, Bocah Ini Lompat dari Lantai 19 Apartemen Laguna

Mei Amelia R – detikNews
Jakarta – Seorang bocah berusia 5 tahun tewas setelah melompat dari lantai 19 kamar 8 Tower B Apartemen Laguna, Penjaringan, Jakarta Utara, yang ditempati korban dan keluarganya. Korban nekat terjun dari apartemen karena dilarang menonton film Spider-Man 2 oleh ibunya.

“Korban ingin nonton film Spider-Man 2, namun ibunya melarang karena sedang sibuk mengurus adiknya,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Rikwanto dalam pesan singkat ke wartawan, Kamis (1/5/2014).

Peristiwa terjadi sekitar pukul 11.00 WIB tadi. Saat itu korban bernama Valentino meminta kepada ibunya untuk menonton film Spider-Man 2. Namun permintaan korban tidak dituruti oleh ibunya sehingga Valentino pun merajuk.
“Karena tidak dipenuhi keinginannya korban masuk dalam kamar dan mengunci kamar dari dalam,” imbuhnya.
Ibu korban kemudian mencoba mendobrak pintu kamar namun tidak berhasil. Akhirnya sang ibu meminta bantuan engineering apartemen. Namun ternyata di bawah apartemen sudah ramai oleh penghuni apartemen yang melihat mayat.
“Ibu korban kemudian ke bawah dan mendekati mayat tersebut, rupanya anaknya yang terjatuh,” tuturnya.
Korban saat ini sudah dibawa ke RS Pluit. Korban tewas dengan luka pada bagian dagu luka terbuka, kaki kanan patah dan terdapat benjolan di kepala.
Pihak kepolisian telah memeriksa saksi-saksi di TKP seperti orangtua korban, sekuriti apartemen. TKP saat ini sudah diberi garis polisi.
“Selanjutnya proses lidik apakah ada unsur kesengajaan atau tidak,” pungkasnya.

Sumber: http://news.detik.com/read/2014/05/01/153147/2570829/10/dilarang-nonton-spider-man-bocah-ini-lompat-dari-lantai-19-apartemen-laguna

Artinya sosok idola si anak memiliki peranan tersediri di dalam pembentukan pola berpikir pada anak, dan pada kasus semacam ini guna menghindari agar kejadian serupa tidak terulang lagi. Orangtua seharusnya harus bisa dan mampu menghadirkan sosok heroik seperti toko idola di atas di diri mereka. Bagaimana caranya? Perbaiki hubungan antara orangtua dan anak, manfaatkan waktu ketika berinteraksi dengan sebaik mungkin, ajarkan anak tentang seni beladiri sedini mungkin dan ajarkan tentang nilai-nilai kehidupan seperti membela yang benar, berani jujur ketika melakukan kesalahan, rendah hati, dll.

Berikut ini video visualisasi bagaimana anak mencontoh perilaku Anda, ingat namanya proses penduplikasian bisa terjadi tanpa Anda sadari. Artinya anak akan belajar secara langsung maupun tidak terhadap semua tindakan, perkataan, dan apa yang anda rasakan terhadap dirinya,  orang lain, dan kepada diri Anda sendiri. Jika Anda ingin menambahkan cerita dan pengalaman Anda selama ini terkait dengan proses penduplikasian karakter pada anak Anda, silahkan share cerita Anda melalui kotak komentar di bawah artikel ini. Video inspiratif lainnya dapat dilihat dan di download di Muizza Group Company Channel on Youtube.