Cerita ini berasal dari pengalaman pakde saya sendiri. Judulnya menakutkan ya ( Hidayah datang untuk Si Perokok ) ? Memang iya, karena judul itulah yang memang menggambarkan suasana yang terjadi pada saat itu. Cerita ini sebenarnya sudah lama sekali terjadinya mungkin kisaran antara 14/15 Tahun yang lalu. Berawal dari kebiasaan buruk pakde saya yaitu merokok hingga berbungkus-bungkus dalam sehari mulai sejak remaja hingga menjadi seorang kakek.

Saya bisa mendapatkan cerita ini ketika saya sedang menjenguk beliau pada saat itu di rumah sakit, kebetulan pada saat itu masih liburan bulan puasa. Beliau bisa bercerita demikian karena kebetulan pada saat itu beberapa dari kami saya, kakak, dan beberapa saudara kami yang usianya rata-rata antara 17-19 tahun ada yang ketahuan merokok dan diomeli oleh Bude kami.

Bude memang paling benci sama yang namanya perokok, karena suaminya sering merokok, Bude sebenarnya sering selalu mengingatkan akan bahayanya benda tersebut. Tetapi Pakde sepertinya selalu tidak mendengarkan nasehat yang Bude berikan. Pernah waktu itu Pakde sedang asik nongkrong di alun-alun taman kota di daerah Mojokerto sembari merokok itu menghabiskan kurang lebih 7-8 bungkus rokok sekali duduk. Menurut cerita Pakde beliau pernah merokok 12 bungkus dalam sehari.

Bisa anda banyangkan 12 bungkus dalam sehari, mungkin klo anda lihat secara langsung pasti anda akan melihat kereta otomotif yang sedang berjalanan ada di depan anda. Itu belum ditambah dengan kopi hitam. Tapi lambat laun Pakde menyadari bahwa fisiknya tidaklah semuda dulu. Sehingga ketika anak pertamanya menikah Pakde sudah mengurangi porsi untuk merokoknya dalam sehari antara 2-3 bungkus saja. Pakde memiliki 4 orang anak, anak pertama itu laki-laki, anak kedua itu perempuan, anak ketiga perempuan, dan anak terakhir itu laki-laki.

Di sini pernikahan anak kedua, dan ketiga yang perempuan-perempuan menikah waktunya hanya beda beberapa bulan saja mungkin antara 2/3 bulan rentang waktunya. Nah cerita semakin menarik ketika anak kedua, dan anak ketiga sama-sama mengandung. Anak kedua telah hamil 9 bulan, sedangkan anak ketiga telah hamil antara 7/8 bulanan, saya kurang tau tepatnya.

Singkat cerita waktu itu Pakde sedang nongkrong di alun-alun bersama teman-teman sebayanya, beliau asal menceletuk bilang ke teman-temannya kurang lebih seperti ini “Jika di bulan ini, putri kedua, dan putri ketiga ku sama-sama melahirkan, aku janji berhenti merokok!” teman-temannya cuma tertawa mendengarnya karena tidak mungkin yang putri ketiganya bisa melahirkan di bulan yang sama dengan putri keduanya. Karena mereka tau bahwa putri ketiganya masih hamil 7 bulanan.

Waktu terus berjalan alhasil anak kedua telah melahirkan waktu itu pada bulan Juni awal, sedangkan ketika anak keduanya melahirkan anak ketiganya belum memberikan tanda-tanda bahwa dia juga akan melahirkan. Tetapi aneh bin ajaib dipertengahan bulan menjelang akhir bulan Juni anak ketiganya melahirkan! Dan melahirkannya pun dalam kondisi normal seperti orang-orang pada umumnya. Di situ Pakde terkejut bukan main, karena celetukannya di amin-kan oleh malaikat-malaikat di langit. Mulai semenjak saat itu Pakde berkomitmen untuk tidak merokok sama sekali.

Lalu saya iseng tanya “Pakde, kenapa ga ngerokok lagi?” Pakde cuma menjawab “Klo saya merokok lagi malu sama Gusti Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, bisa-bisa di azab klo sampe ngelanggar janjinya. Wong Gusti Allah aja nepatin janji Pakde kok. Sebenarnya Pakde nyeletuk gitu juga ke temen-temen Pakde pada saat itu, karena Pakde seneng banget klo bisa punya banyak momongan.

Eh syukur Alhamdulillah doa Pakde dikabulin sama Gusti Allah.” Cerita ini diangkat dari kisah nyata pengalaman Pakde saya, sekarang Pakde dan Bude sudah tidak ada. Semoga cerita ini bisa membawa hal positif bagi diri Anda, semoga Pakde dan Bude mendapat nikmat kubur di sana. We love you Pakde dan Bude. 🙂