Investasi Cerdas Itu Seperti Apa?

Di samping menjadi karyawan, ada banyak orang yang memilih untuk memiliki investasi. Berinvestasi memiliki risiko yang jelas lebih tinggi dibanding bekerja sebagai seorang karyawan.
Akan tetapi, kemungkinan keuntungan yang lebih besar dan kesempatan untuk menjadi bos bagi diri sendiri cenderung lebih menarik.
Semakin tingginya tingkat inflasi juga mendorong banyak orang untuk memilih berinvestasi. Gaji seorang karyawan sering kali tidak mengalami kenaikan yang sebanding dengan tingkat inflasi tiap tahunnya.
Berinvestasi adalah salah satu cara yang efektif untuk menghadapi inflasi di samping bekerja sebagai karyawan. Dengan berinvestasi, seseorang akan lebih siap dalam menghadapi masa depan.
Baca juga: 9 Tips Membangun Bisnis Meskipun Sambil Bekerja
Berinvestasi membutuhkan waktu yang lama sebelum akhirnya dapat dinikmati hasilnya. Tidak jarang, agar nilai investasi seseorang tinggi dibutuhkan waktu sampai 10 tahun.
Untuk itu, investasi baiknya dilakukan sedini mungkin. Usia 20-an adalah usia yang sesuai untuk memulai investasi, karena pada usia 30-an biasanya seseorang mulai membutuhkan uang yang sangat banyak.
Selain itu, dalam berinvestasi seseorang harus menghadapi bermacam-macam risiko finansial. Agar berhasil dalam berinvestasi, Anda harus benar-benar mempraktikkan investasi cerdas. Di bawah ini disajikan beberapa tips dan trik investasi cerdas bagi pemula.

1. Saham

Saham adalah cara berinvestasi yang paling berisiko sekaligus berkemungkinan memberi keuntungan paling tinggi. Sebuah perusahaan menerbitkan saham untuk mencari pendanaan jangka panjang yang kemudian dibeli oleh publik. Agar mendapat keuntungan, seseorang tidak boleh salah memilih perusahaan.
Dalam bermain saham, seseorang bertanggung jawab penuh mengelola modal yang dimiliki. Untuk memperoleh keuntungan, ada beberapa hal yang harus dipelajari sebelum membeli saham sebuah perusahaan.
Menurut Lukas Setia Atmaja cara investasi cerdas dengan saham yang pertama adalah dengan mencari tahu apa kira-kira bisnis yang dibutuhkan orang di masa depan.
Baca juga: Tips Jitu Mengelola Keuangan untuk Pemula
Kedua, pastikan bahwa perusahaan yang Anda beli sahamnya adalah perusahaan yang dikelola oleh orang-orang yang kompeten dan jujur.
Ketiga, cari tahu apakah perusahaan yang Anda pilih memiliki reputasi yang baik. Keempat, amati laporan keuangan perusahaan yang akan Anda pilih. Kelima, bagi modal Anda dengan membeli instrumen lainnya seperti obligasi dan sukuk.

2. Reksa dana

Reksa dana adalah cara berinvestasi dengan risiko menegah. Reksa dana disebut juga mutual fund, karena reksa dana adalah kumpulan dana dari publik yang digabungkan dan dikelola oleh Manajer Investasi dalam bentuk saham, obligasi, pasar uang, atau efek dan sekuriti lainnya. Untuk memiliki reksa dana, seseorang membeli unit penyertaan reksa dana.
Sekarang ini reksa dana adalah salah satu jenis investasi yang digemari. Pasalnya, dibandingkan dengan membeli saham yang harus kita kelola sendiri, pengelolaan reksa dana sepenuhnya dilakukan oleh seorang Manajer Investasi.
Namun, tetap ada beberapa hal yang harus diketahui seseorang sebelum melakukan investasi cerdas dengan reksa dana.
Baca juga: Pentingnya Dana Darurat dan Tips untuk Mempersiapkannya dari Sekarang
Berdasarkan risiko yang harus dihadapi, jenis-jenis reksa dana terbagi menjadi lima, yaitu reksa dana terproteksi, reksa dana pendapatan tetap, reksa dana campuran, reksa dana pasar uang, dan reksa dana saham.
Jenis yang sesuai bagi mereka yang berani untuk berinvestasi dengan risiko tinggi reksa dana saham. Selanjutnya, untuk risiko menengah seseorang dapat memilih reksa dana campuran atau pendapatan tetap.
Reksa dana pasar uang atau reksa dana terproteksi adalah jenis yang sesuai untuk mereka yang ingin berinvestasi dengan profil risiko rendah.
Sebelum berinvestasi dengan reksa dana juga terdapat beberapa syarat yang harus dipenuhi: Seseorang harus berusia minimal 21 tahun agar diperbolehkan membeli reksa dana, mengisi “Kuesioner Profil Risiko” dan “Formulir Pembelian”, dan menyertakan NPWP untuk beberapa penyedia layanan reksa dana.

3. Emas

Investasi berikutnya adalah investasi emas. Berinvestasi dengan emas adalah salah satu cara investasi yang paling aman.
Tersedia tiga bentuk emas yang dapat digunakan untuk investasi yaitu perhiasan emas, emas batangan, dan sertifikat emas. Investasi dengan emas cenderung memberi keuntungan, tetapi agar keuntungan yang Anda dapatkan maksimal, Anda harus melakukan investasi cerdas dengan emas.
Baca juga: Yuk, Cerdas Berinvestasi dengan Memahami Profil Risiko!
Investasi cerdas dengan emas dimulai dengan memilih bentuk emas yang sesuai. Untuk mendapatkan keuntungan yang lebih, ada baiknya Anda menghindari investasi dengan perhiasan emas dan membeli emas dalam ukuran kecil.
Berinvestasi dengan perhiasan emas kurang menguntungkan, karena saat membeli emas Anda juga harus membayar biaya pembuatan.
Berinvestasi emas batangan lebih menguntungkan, tetapi hindari membeli emas batangan dalam jumlah kecil. Belilah emas batangan dalam jumlah besar. Pasalnya, biaya produksi emas batangan dalam jumlah kecil lebih tinggi.

4. Deposito

Pada dasarnya, deposito mirip dengan menabung di bank pada umumnya. Akan tetapi, suku bunga deposito lebih tinggi dan terdapat beberapa ketentuan yang membedakannya dengan tabungan biasa.
Perbankan pada umumnya memberikan syarat minimal saldo untuk deposito sebesar satu juta rupiah. Selain itu, biasanya bank memberikan jangka waktu jatuh tempo yang bervariasi mulai dari 1, 3, 6, atau 12 bulan.
Perlu diingat bahwa sebelum jatuh tempo, Anda tidak diperkenankan untuk menambah saldo atau mencairkan dana deposito Anda.
Namun, jika Anda memang benar-benar ingin mencairkan dana deposito sebelum jatuh tempo, akan ada denda yang harus Anda bayarkan.
Baca juga: Mengenal Lebih Dekat Apa Itu Uang Elektronik
Kelebihan deposito adalah Anda memiliki suku bunga yang lebih besar dibandingkan tabungan biasa. Besaran suku bunga deposito biasanya mencapai 4-7%. Selain itu, deposito juga memiliki profil risiko yang rendah.
Hal pertama yang harus diperhatikan untuk investasi cerdas dengan deposito adalah pastikan bahwa bank yang Anda memenuhi standar kesehatan Bank Indonesia agar Anda terhindar dari kebangkrutan.
Kedua, tentukan jangka waktu jatuh tempo deposito Anda mulai dari 1 hingga 24 bulan. Ketiga, pastikan Anda memilih bank dengan suku bunga deposito yang tinggi agar Anda mendapat keuntungan lebih.
Keempat, pastikan apakah bank yang Anda pilih mengenakan biaya administrasi atau denda untuk pencairan deposito sebelum jatuh tempo.
Terakhir, pastikan bank yang Anda pilih memiliki fitur-fitur deposito yang memudahkan, seperti Automatic Roll Over atau perpanjangan deposito secara otomatis.
Semoga tulisan tentang tips dan trik investasi cerdas ini dapat dijadikan rujukan yang bermanfaat bagi Anda. Akhir kata, mulailah investasi sedini mungkin!