Kartu Nama CEO Antara Personal Branding atau Malah Jadi Petaka?

Saya ingin berbagi kisah nyata dari pengalaman salah satu sahabat saya.
Waktu itu ia baru memulai bisnis dan seperti kebanyakan pebisnis pemula.
Ia langsung cepat-cepat membuat kartu nama dan tidak lupa dicantumkan kata CEO sebagai jabatannya.
Karena bisnis memang baru dijalankan, ia belum punya karyawan.
Semuanya masih di-handle sendirian.
Suatu ketika, ia ingin mengajukan penawaran produk barang yang ia produksi ke sebuah perusahaan.
Disambut langsung oleh salah satu karyawan tersebut, ia dengan semangat memberikan penjelasan materi presentasi.
Di akhir pertemuan, mereka saling bertukar kartu nama.
Kartu nama CEO yang telah ia buat sebelumnya, dengan PD ia sodorkan.
Baca juga: Tips Berhemat ala Milyader Bandung
Memang pada pertemuan itu, terlihat perwakilan karyawan dari perusahaan yang ia ajukan penawaran, merasa tertarik dengan barang hasil produksi usahanya.
Setelah beberapa hari dari waktu pertemuan.
Di-followup-lah.
Perusahaan yang ditawarkan merasa senang dan tertarik ingin membelinya.
Gumam dalam hati, pengusaha pemula ini berkata: “Yes, closing proyek besar”.
Ketika proses negosiasi pada saat followup terkait penawaran harga.
Ternyata perusahaan yang ia tawarkan, menawar harga setengah dari yang ia ajukan.
Memang masih utung, tapi keuntungan yang diharapkan ternyata tidak sesuai.
Mengapa hal seperti ini bisa terjadi?
Ternyata setelah ia melakukan evaluasi diri.
Baca juga: Cara Evaluasi Diri Ketika Bisnis Bangkrut
Kartu nama CEO yang ia buat menjadi petaka buat dirinya.
Pihak yang ia temui berpikir bahwa si decision maker, sudah ada dihadapannya langsung.
Sehingga ketika ia meminta pengajuan potongan harga atau diskon.
Kemungkinan di-approved lansung, sangat tinggi.
Lain hal jika ceritanya seperti ini…
Misalnya ia membuat kartu nama dengan label marketing manager.
Pada proses negosiasi, ia bisa bilang: “mohon maaf dengan angka yang bapak/ibu ajukanakan kami sampaikan dulu ke tim. Karena pertimbangan kami dengan harga segitu blabla..”.
Nah kalau dengan label kartu nama CEO.
Pebisnis pemula tadi lebih mudah di-skakmat oleh pihak perwakilan perusahaan.
Memang kartu nama bisa menjadi personal branding, tapi bisa juga menjadi petaka seperti cerita di atas.

Bagikan juga tulisan di atas melalui sosial media Facebook, Twitter, Google Plus, LinkedIn, dan Path ke sesama teman Anda yang sedang memulai usaha/bisnis semoga bisa menjadi informasi yang bermanfaat.
Daftarkan email dan nama lengkap Anda di form yang ada di bawah artikel ini, dapatkan artikel dari TheGold.Asia setiap minggu melalui email yang Anda daftarkan, secara cuma-cuma. 🙂

Iklan