Sindiran merupakan salah satu cara untuk pengendalian perilaku sosial yang menyimpang, tujuannya agar orang yang melakukan perbuatan tersebut tidak melanggar norma atau hukum yang hidup dan berlaku di masyarakat.

Namun apabila sindiran dipergunakan oleh orangtua guna mengendalikan perilaku buruk seorang anak. Apakah hal ini efektif? Cara terbaik apa yang bisa dilakukan oleh orangtua guna mengarahkan seorang agar tidak berperilaku yang dapat melanggar norma yang dianut oleh keluarga?

Sebagai contoh ada seorang anak yang bernama budi. Kini ia memasuki usia remaja dengan status pelajar SMA. Ada hobi yang ingin disalurkan oleh Budi bersama teman-temannya yaitu jalan-jalan ke berbagai tempat yang ada di kota Jakarta, dan salah satu tempatnya yaitu kota tua.

Kebetulan domisili dari rumah budi tinggal yaitu di Bogor. Budi dan teman-temannya berangkat menggunakan kereta api dari Bogor pukul 16.00WIB dan tiba di stasiun Kota pada pukul 18.00. Setelah berjalan beberapa menit, sampailah mereka di Museum Kota Tua Jakarta. Asik berfoto bersama teman-temannya tak terasa sudah pukul 20.00 WIB. Mereka bergegas untuk pulang ke rumah.

Perjalanan yang ditempuh kurang lebih dua jam perjalanan sehingga pada jam 22.30 barulah Budi sampai di rumah. Melihat anaknya pulang rumah terlalu malam. Ibunya pun mencoba menegurnya dengan cara menyindir: “Budi, pulangnya kok jam segini? Kenapa ga pulang subuh aja sekalian?” Maksud hati orangtua Budi adalah agar anaknya tidak pulang larut malam.

Sekarang yang jadi pertanyaan apakah Budi bisa langsung menangkap maksud sindiran tersebut? Jawabannya bisa jadi ia tahu maksud ibunya atau malah ia semakin menjadi-jadi karena sakit hati dengan sindiran ibunya? Nah untuk menegur orang yang dalam posisi cape atau lelah karena aktivitas tertentu.

Cara terbaiknya adalah dengan menyentuh perasaannya dengan lembut. Pada saat seseorang dalam posisi lelah akan mudah untuk mereka terpancing emosinya sehingga sindiran yang diberikan bukannya dievaluasi oleh diri mereka tetapi malah dijadikan bahan untuk menjaga jarak antara orangtua dengan anak. Jika sudah demikian repot.

Untuk itu alangkah lebih baik jika orangtua berkata: “Anak ku tercinta, mama papa khawatir jika kamu pulang larut malam. Keselamatan mu menjadi penting bagi kami. Mama cinta sama kamu, makanya mama bilang hal ini ke kamu. Jadi mohon besok jika sudah mulai terbenam matahari. Segeralah bergegas pulang. Jika Engkau bahagia ketika di luar rumah, maka bahagiakanlah papa mama ketika kamu berada di rumah. Hadir, duduklah bersama kami, menonton tv bersama, makan bersama, dan bermain bersama.

Intinya adalah menjaga komunikasi baik antara anak dan orangtua sangat amat penting. Lebih efektif komunikasi yang mengedepankan kehangatan dibandingkan komunikasi yang menyindir. Anak juga akan merasa orangtuanya sangat peduli atas keselamatan dirinya, orangtua juga membutuhkan dirinya ketika ia di rumah, dan ia juga akan berpikir bahwasannya kehadiran di rumah telah dinanti-nantikan oleh orangtuanya. Selamat mencoba 😀