Beberapa minggu kedepan adalah waktu istimewa bagi para tamu Allah untuk menunaikan ibadah haji. Dan sepulang dari tanah suci, siap-siap dipanggil pak haji dan bu haji. 😛
Tulisan ini dimaksudkan bagi para pembaca yang memiliki saudara yang sedang menunaikan haji. Izinkan saya mengingatkan saja berdasarkan pengalaman sendiri ketika berangkat umrah dan berdasarkan pengalaman orangtua ketika haji.
Ketika di tanah suci, tetaplah berhati-hati di sana. Baik ketika membawa benda-benda berharga maupun pada saat belanja. Salah satu tour leader kami waktu itu pernah bilang bahwa tidak semua orang yang berada di kota suci mekkah dan madinah itu adalah orang baik-baik.
Jadi tetaplah waspada! Nah pada tahun 2007 yang lalu. Orang tua saya berkesempatan untuk berangkat haji. Sepulang dari tanah suci. Ibu saya membeli sebuah cincin sebagai cinderamata. Namun ketika kembali ke tanah air, beliau baru sadar bahwa emas yang dibeli adalah emas palsu.
Memang musim haji itu musimnya emas palsu beredar. Ini mohon maaf banget ya ada hal penting yang perlu saya sampaikan. Ternyata ada beberapa pemikiran yang terbentuk di sana (pemikiran orang-orang jahat), yang menyatakan bahwa orang Indonesia atau orang melayu itu yang berada di tanah suci adalah orang-orang kaya. Selanjutnya, mereka adalah orang-orang kaya yang mudah ditipu (bodoh).
Kalau Anda sudah sering berpergian ke luarnegeri biasanya sudah tahu cara mengantisipasinya. Namun bagi mereka yang baru pertama kali berpergian ke luarnegeri. Terkadang lebih mudah terkecoh manakala melihat cinderamata, apalagi yang terbuat dari emas dengan harga yang amat miring.
Para pedagang bilangnya itu adalah emas lokal sehingga lebih murah dibandingkan emas di Indonesia. Ada juga, emas palsu yang harganya mirip dengan harga emas dunia. Namun karena “keterbatasan akses” pada saat travelling sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan pengecekan keaslian emas. Ya, ujung-ujungnya ketipu dah.
Jujur lebih sulit menditeksi keaslian emas pada perhiasan dibandingkan emas yang telah standar pabrikan. Misalnya emas batangan atau emas koin. Itu lebih aman untuk dibeli ketimbang emas perhiasan. Nah yang perlu dicatat juga. Peredaran emas palsu ini kebanyakan dijual bukan di toko emas resmi.
Biasanya ada pedagang atau penjual emas nakal, mereka bisa jadi imigran gelap yang menyelundupkan emas-emas imitasi ke kota suci. Lalu menjualkan emas mereka ke para jamaah haji, yang menjadi target mereka adalah orang-orang asia-melayu. Terutama orang Indonesia. Wess ojo kaget, ketika mereka bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Bahkan ada juga yang bisa berbahasa jawa!
Bahkan mereka ada yang rela dibayar dengan menggunakan mata uang rupiah. Padahalkan ga mungkin juga rupiah laku kecuali ditukarkan ke mata uang Saudi Arabian Riyal (SAR). Tapi pedagang tadi ngebet kalau dagangannya bisa dibeli dengan mata uang rupiah. Kalau sudah seperti ini, lebih baik tinggalin saja! Dan tolak! Jangan mencela-mencele di negeri orang lain. Anda harus memiliki ketegasan sikap terhadap mereka.
Memang si kalau emas batangan atau emas koin tidak bisa jadi cinderamata yang cantik dan menarik. Karena memang standar pabrikan dan corak seni lebih banyak di emas perhiasan (bisa dipakai juga). Saran saya, jika memang Anda tetap ingin membeli emas perhiasan. Belilah di toko emas yang bangunannya permanen atau jangan sungkan bertanya kepada jamaah haji yang lain atau yang sudah sering umrah/haji, bisa juga ke tourleader Anda perihal lokasi tempat terpercaya untuk membeli emas/perak selama berpergian haji.

Semoga sharing pengalaman di atas bisa bermanfaat. Bagikan juga tulisan ini ke teman-teman atau saudara Anda yang sedang berpergian haji melalui Facebook, Twitter, Google Plus, WhatsApp, dan Line.
Semoga Anda termasuk orang-orang yang dijaga Allah SWT dari tindak kejahatan mahluk ciptaan-Nya yang ingin menjahati Anda dan keluarga dengan cara berbagi tulisan ini di sosmed yang Anda punya. Aamiin. 🙂