Setiap Orang itu Unik, Termasuk Profil Risiko dalam Berinvestasi!

Apa pun jenisnya, setiap orang perlu berinvestasi. Tujuannya, untuk melindungi diri sekaligus menjamin keuangan di masa depan dari risiko inflasi. Belum lagi, perihal tantangan kebutuhan hidup yang kian meningkat dari tahun ke tahun.
Sebenarnya, ada banyak produk investasi yang bisa Anda coba. Namun, lantaran harus mengeluarkan uang yang besar di permulaan, sebagian orang justru khawatir akan merugi.
Pasalnya, tidak sedikit orang yang gagal di tengah jalan. Jangankan keuntungan, modal awal saja tidak kembali! Memang, pada banyak kasus hal itu disebabkan oleh kesalahan strategi para investor.
Bagaimanapun, meski terlihat mudah, investasi tetap membutuhkan banyak pemahaman, terutama soal profil risiko–kunci utama yang menentukan produk/instrumen serta portofolio investasi.
Baca juga: Tips Memilih Safe Deposit Box di Bank yang Aman dan Nyaman
Profil risiko setiap individu lantas dipengaruhi oleh banyak faktor, meliputi umur; tujuan keuangan; kondisi keuangan; jangka waktu investasi; tingkat pengetahuan dan pengalaman terkait keuangan; serta tingkat imbalan/keuntungan yang akan dicari.
Adapun jenis investasi berbeda-beda antara satu dengan yang lain. Berinvestasi emas mungkin cocok bagi si A, namun bagaimana dengan si B? Harus dipahami, setiap investor tentu memiliki “gayanya” masing-masing.
Ada yang cocok berinvestasi jangka panjang, ada pula yang sesuai berinvestasi jangka menengah, dan pendek. Secara umum, ada tiga kategori profil risiko seseorang.

1. Profil Risiko Seorang Investor dengan Tipe Konservatif

Mengusung sistem konvensional. Biasanya, orang-orang bertipe ini kurang menyukai risiko dan jika perlu: menghindarinya. Akibatnya, mereka akan cenderung memilih portofolio investasi berisiko sangat rendah.
Sebisa mungkin, modal investasi haruslah aman dan stabil; tidak berkurang. Sayangnya, risiko kecil tentu berdampak pada imbal hasil (return) yang kecil pula, bukan?
Adapun instrumen investasi yang cocok bagi tipe konservatif adalah produk kas (tabungan, deposito, dsb) dan pasar uang. Nah, jika ingin keuntungan yang lebih besar, bisa juga mencoba investasi logam mulia atau reksa dana pendapatan tetap.

2. Investor dengan Profil Risiko Tipe Moderat (Balanced)

Satu tingkat di atas tipe konservatif, mereka yang masuk dalam kategori ini cenderung mengharapkan tingkat return yang sedang (tidak terlalu besar)–namun tetap stabil dan bisa dikontrol.
Di sisi lain, mereka juga bisa menerima sedikit risiko kehilangan dana investasi, selama dana tersebut masih bisa kembali dalam jangka waktu menengah hingga panjang.
Tipe moderat sangatlah cocok berinvestasi di bidang reksa dana campuran ekuitas dan obligasi; reksadana saham (dengan imbal hasil stabil); properti; hingga logam mulia (investasi emas).

3. Tipe Agresif

Sebagian kelompok konservatif mungkin akan menganggap tipe agresif sebagai orang-orang yang ceroboh dan gemar mengambil risiko tinggi. Pasalnya, pada banyak kasus, tipe ini cenderung mementingkan imbal balik (return) ketimbang keselamatan dana yang sudah mereka investasikan.
Tipe ini menganggap, risiko tinggi adalah bagian harus dihadapi jika ingin mendapatkan keuntungan tinggi. Tidak tanggung-tanggung, mereka bahkan siap menghadapi kemungkinan potential loss sama dengan nilai investasinya (bernilai nol)!
Nah, karena berfokus mendapatkan return di atas rata-rata, maka investasi yang cocok bagi tipe agresif adalah investasi berjangka panjang, seperti saham langsung, valuta asing, properti, dan bisnis startup.
Tidak menutup kemungkinan mereka akan sukses dengan keuntungan yang besar. Toh, mayoritas orang bertipe ini cenderung siap menghadapi kondisi pasar yang berfluktuasi.
Baca juga: 7 Tanda Anda Telah Benar Belanja Sesuai Kebutuhan
Setelah memahami tiga tipe investor di atas, ada baiknya menentukan karakter Anda sendiri. Cara mudahnya, adalah dengan menguji seberapa siap Anda menghadapi kondisi pasar yang turun.
Jika Anda merasa sedih, kesal, atau kecewa–maka kemungkinan Anda bertipe konservatif. Nah, jika Anda masih merasa optimis di waktu yang akan datang, maka tipe moderat cocok bagi Anda.
Adapun jika kondisi pasar yang turun rupanya membuat Anda bersemangat, bahkan justru menambah porsi investasi, besar kemungkinan: Andalah tipe agresif.
Jadi, masuk ke dalam tipe manakah Anda?

Berinvestasi Sesuai Profil Risiko

Setelah memahami kondisi diri sendiri, inilah saatnya menentukan waktu yang tepat untuk berinvestasi. Salah satu cara mudahnya, kita bisa meniru gaya para investor di Indonesia, yakni di musim pemilu.
Harus dipahami, kapan pun dilakukan, investasi pasti memuat risiko. Pemilu sendiri menjadi faktor tambahan yang layak dipertimbangkan–terutama perihal tingginya risiko merugi yang bisa datang, apalagi jika nilai saham turun drastis.
Nah, adapun untuk memperkecil risiko, kita bisa mengelola kumpulan aset–dengan melakukan manajemen portofolio. Berinvestasi sendiri memerlukan pertimbangan COR (Capital, Objective, dan Risk) yang telah disesuaikan dengan profil risiko.
Bagi Anda yang bermodal kecil, tentulah tidak disarankan untuk berinvestasi trading saham, lantaran kurang likuid. Apalagi, modal kecil juga menjadikan pemilihan saham jadi terbatas, bahkan berisiko mendatangkan biaya trading yang akan dibebankan kepada Anda.
Baca juga: Beberapa Pertimbangan Sebelum Membeli Emas
Setelah mempertimbangkan faktor capital (modal), maka langkah selanjutnya adalah menggali ulang objective atau tujuan Anda berinvestasi. Kira-kira, apa tujuan Anda membeli saham atau justru memilih instrumen investasi lain?
Nah, jika Anda ingin membuat tabungan pendidikan anak atau justru dana pensiun, maka investasi tahunan dengan menabung saham sangat sesuai bagi Anda.
Adapun yang terakhir, adalah faktor risiko. Harus diingat, setiap jenis investasi pastilah memiliki risiko. Karenanya, yang Anda perlukan adalah meminimalkan faktor risk (risiko tadi).
Salah satu tips yang bisa Anda coba, yakni hindari berinvestasi di aset yang berisiko tinggi (saham) ketika situasi ekonomi sedang kurang baik. Sebaliknya, di waktu yang sama, cobalah berinvestasi di aset berisiko rendah, semisal deposito atau justru surat berharga.
Harus dipahami, setiap orang tentu memiliki profil risiko yang berbeda-beda. Karenanya, penting untuk tetap mempertimbangkan faktor-faktor yang memengaruhi profil risiko demi kelancaran investasi Anda.
Seperti halnya salah satu slogan investasi populer: “kenali, pahami, dan nikmati.”

Bagikan tulisan ini ke sesama teman Anda yang sedang atau ingin memulai berinvestasi di jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, LinkedIn, dan Path. Caranya klik ikon share dari masing-masing sosial media tersebut.
Tidak ingin ketinggalan tulisan terbaru dari blog ini? Gabung bersama ribuan pembaca lainnya dengan cara subscribe, masukan alamat email dan nama lengkap Anda di kotak berlangganan artikel di bawah tulisan ini.