Tips Menjadi Orangtua Super Karena Memiliki Anak Seorang Hacker Cilik

Pengaruh film-film bernuansa teknologi yang mungkin beberapa tahun terakhir sering di putar di televisi nasional, bioskop, maupun di website-website yang menyediakan konten video seperti youtube.

Kelihatannya memberikan inspirasi tersendiri bagi anak-anak muda. Tidak hanya kecanggihan device atau gadget  dengan teknologi tinggi yang ditampilkan, tetapi juga kemahiran dalam seni exploitasi sistem komputer, coding, dan seterusnya.

Belum lagi efek-efek tertentu yang menimbulkan decak kagum, seperti: wow, keren, cool, kece, leh uga tuh, leh uga nih, dan seterusnya. Lalu muncul visualisasi liar ingin seperti yang ada di film yang ia tonton. Dari keinginan menjadi hacker tadi.

Mulailah ia gemar membaca majalah-majalah tentang komputer. Tidak sampai di sana, ia juga mulai gabung di grup-grup yang ada di Facebook, follow akun twitter yang membahas tentang IT, mulai baca-baca blog bernuansa teknologi, mungkin ia salah satu pembaca dari Situstarget.com (The Target Community). Hehe.

Baca juga: Tidak Ingin Akun Instagram Di hack? Lakukan Cara Proteksi Berikut Ini

Setelah sudah banyak buku, artikel, majalah yang ia baca, lalu selanjutnya ia baru memulai eksperimen dengan komputer yang ia gunakan sendiri di rumah. Atau mungkin ia bereksperimen di lab komputer sekolah atau warnet. Eksperimen dasar yaitu coba instal aplikasi-aplikasi tertentu. Dan ketika berhasil, ia semakin tertarik belajar komputer.

Mulailah ia bereksperimen dengan kode pemrograman, seperti HTML, Pascal, Java, C++, dan seterusnya. Ia coba menulis coding dari buku yang ia baca, maupun dari website atau blog yang menyediakan coding pemrograman tadi. Dicoba kembali di komputernya dan it works!

Tingkat keberhasilan mulai bertambah, tampilan di desktop komputer semakin bervariasi. Tidak seperti komputer pada kebanyakan. Komputer yang ia miliki ternyata bisa ini itu, layaknya seorang pesulap yang menampilkan sebuah pertunjukan sulap. Kemampuan IT-nya mulai ia beritahu ke orangtua, teman-teman terdekat, maupun guru di sekolah.

Baca juga: Tips Mengamankan Komputer dari Serangan Hacker

Lantas mereka yang melihat hasil karya yang ia buat pada komputernya, berdecak kagum. Wah keren! Wow kok bisa?! Pinter ya IT-nya! Dan pujian-pujian bernuansa kagum sering ia dapatkan. Semangat belajar IT semakin tinggi. Lalu mulailah masuk ke grup atau forum online yang bersifat underground.

Ketemu dengan “mastah-mastah” yang memiliki kemampuan IT di atas rata-rata. Belajar dari setiap thread yang diberikan dari para mastah tadi, untuk dipelajari dan dipraktekan bersama berdasarkan ilmu dan pengalaman yang bersangkutan. Karena tinggal modelling akhirnya anak ini bisa membuat program virus pertamanya.

Dengan bantuan source code dari para mastah yang memberikan gratis di grup maupun forum-forum underground. Akhirnya ia semakin terasah dan terlatih untuk melakukan kegiatan coding. Saat ini yang ia tahu bahwa PHP bukan lagi Pemberi Harapan Palsu, tetapi PHP dalam kepalanya, yaitu sebuah bahasa pemrograman. Canggih!

Baca juga: Cara Mengatasi Peringatan Deteksi Virus Palsu

Artinya perspektif terhadap hal-hal yang umum semakin asing, tapi yang asing bagi orang umum. Ia malah familiar dengan hal-hal tersebut. Ketika kebanyakan orang bingung bagaimana suatu virus komputer bekerja, ia malah paham tentang hal tersebut. Namun ia malah tidak paham bagaimana caranya menjadi anak gaul.

Kemungkinan menjadi ansos (anti sosial), lantaran kebanyakan main komputer. Temannya banyak di Facebook, Twitter, Google Plus, dan seterusnya. Namun sebatas hanya dunia virtual yang ada di dalam screen komputer. Selebihnya ia akan keluar kamar. Jika ia lapar, ingin ke toilet, dan mungkin kalau ada bencana alam saja.

Selain dari ketiga hal itu mungkin ia tetap akan bersama komputer yang ia gunakan, sampai mati. Ia sampai mati, kok lebay? Ga lebay, ini beneran! Tidak percaya? Coba lihat saja video youtube yang satu ini, tentang “seorang ibu yang membawa notebooknya ke surga.”

Kok jadi ngomongin ibu-ibu ya? Itu contoh saja. Kalau ini kan kita lagi bicarain anak. Seharusnya judul puisinya bukan Ibu dan Facebook, tetapi Anak dan Facebook. Setuju ya? Hehe.

Sebenarnya beruntung sekali jika seorang ibu memiliki anak yang cita-citanya menjadi seorang hacker. Jarang-jarang ketika ditanya orang misalnya, “nak, cita-cita kamu kalau sudah besar ingin jadi apa?” lalu si anak menjawab dengan penuh percaya diri, “Saya ingin menjadi seorang hacker termuda di Indonesia!“.

Mungkin orang yang bertanya tadi hanya bisa geleng-geleng kepala atau malah bingung dan kikuk. Antara tidak mengerti apa yang dikatakan oleh si anak, kaget karena cita-cita si anak, atau malah ketakutan karena cita-cita si anak. Kita bahas satu per satu ya mengapa ada reaksi yang berbeda-beda.

1. Orang tua yang Tidak Mengerti Apa yang Dikatakan Oleh Si anak

Perbedaan antara native digital dengan foreign digital antara anak dengan orangtua mereka

Perbedaan antara native digital dengan foreign digital antara anak dengan orangtua mereka

Hal ini mungkin saja terjadi, orangtua tidak mengenal istilah hacker, cracker, virus maker, dan seterusnya. Boleh jadi si anak juga mungkin tidak kenal istilah dengan kata tape, pita kaset, piringan hitam, gramofon, dan seterusnya.  

Perlu disadari bersama oleh para orang tua, saat generasi kelahiran anak di atas tahun 90. Mereka disebut sebagai generasi native digital, sedangkan tahun 90 ke bawah mereka di sebut sebagai generasi foreign digital.

Generasi native digital adalah generasi yang keseharian, kehidupan, lingkungan mereka sudah sangat familiar sekali dengan hal-hal yang berbau dengan teknologi.

Sedangkan generasi foreign digital atau mereka yang lahir di bawah tahun 90-an, mungkin tahun 80-an, 70-an, dan seterusnya. Mereka masih belum terlalu familiar sebagian dengan hal-hal yang berkaitan dengan teknologi.

Bagi yang sudah punya anak usia SMP-SMA saat ini, mungkin Anda termasuk generasi foreign digital. Sehingga perlu beradaptasi kembali dengan mereka yang lahir pada era native digital.

Baca juga: Kisah Nyata Carder Indonesia yang Disurati Oleh FBI

Menarik memang jika kita amati sekilas, generasi native digital itu bisa dibilang seseorang yang jauh bisa terasa dekat, tapi yang dekat malah terasa jauh, mereka seperti terhipnotis dengan apa yang mereka baca pada layar smartphone yang mereka pegang.

Sedangkan generasi foreign digital, mereka memiliki relasi pertemanan yang cukup kuat. Terkadang bahkan di suatu kota terpencil sekalipun, Anda memiliki kerabat, sahabat, keluarga, maupun relasi lainnya.

Generasi native digital malah bingung bagaimana Anda berkomunikasi dan menjaga silaturahmi dengan mereka tanpa adanya dukungan seperti Facebook, Path, Twitter, BBM, WhatsApp, dan seterusnya. Lucu ya?  😆

2. Tipe Kedua Adalah Orangtua yang Kaget Mendengar Cita-cita si Anak

Mungkin boleh jadi Anda kaget dengan cita-cita si anak karena belum memiliki gambaran tentang kerjaan hacker itu seperti apa dan bagaimana

Mungkin boleh jadi Anda kaget dengan cita-cita si anak karena belum memiliki gambaran tentang kerjaan hacker itu seperti apa dan bagaimana

Jika orangtua yang pertama tidak mengetahui memang, tentang hal-hal yang berkaitan dengan IT. Orangtua yang kedua pada tipe ini mungkin sudah beradapatasi di era para native digital.

Sayangnya adaptasi masih sebatas lifestyle baru hal-hal yang ada di permukaan saja. Sehingga ketika anak mendeklarasikan impian ingin menjadi seorang hacker cilik misalnya.

Ia terkejut lantaran tidak begitu mengerti dan paham seperti apa dan bagaimana kerjaan hacker itu. Jika dokter misalnya ia bertugas menyembuhkan orang sakit.

Lah ini hacker kerjaannya menyembuhkan juga. Bukan orang, melainkan komputer yang sakit (sakit yang dimaksud bisa karena virus, atau komponen hardware ada yang rusak, dan seterusnya).

Pada tipe orang tua kedua ini, Anda perlu membaca lebih banyak lagi informasi melalui media cetak, elektronik, buku-buku, diskusi dengan orang yang lebih paham terkait IT.

Baca juga: Kebiasan Buruk Inilah yang Membuat Komputer Lambat

Tujuannya adalah untuk menambah pengetahuan dan meminimalisir kesalahan informasi terkait apa itu hacker, aktivitas yang dilakukan, apakah bisa mendekatkan si anak pada kesuksesan, dan seterusnya.

Jadi pikiran seperti, “duh mau jadi apa anak saya, kok punya cita-cita malah jadi pengen seorang hacker cilik”. Pikiran seperti ini bisa Anda klik kanan, lalu delete dari pikiran Anda.

Maka masalah anak ingin jadi seorang hacker bukan jadi suatu masalah, karena Anda telah mengetahui suatu peluang besar yang hari ini di Indonesia masih belum banyak hacker dengan kemampuan tidak hanya skill semata, tapi didukung juga oleh pendidikan.

Baik formal maupun non-formal. Misalnya formal kuliah. Dan kuliah lebih spesifik misalnya jurusan IT, sedangkan non-formal misalnya dengan mengikuti anak sertifikasi CEH (Certified Ethical Hacking), kursus IT, dan seterusnya.

Peluang menjadi white hat hacker lalu bekerja di perusahaan-perusahaan dunia dengan banyaran ratusan dollar per jam, bisa saja menjadi peluang yang menarik bagi si anak.

Tahukah Anda bahwa perusahaan-perusahaan raksasa seperti Google, Microsoft, Apple, Mozilla Firefox, Facebook, dan masih banyak lagi perusahaan yang mau membayar seseorang atau memberikan imbalan fantastis, mungkin ribuan dollar atau bahkan ratusan ribu dollar untuk mereka yang berhasil menemukan celah keamanan (bug) pada sistem mereka.

Apakah ini bukan berita baik bagi mereka yang bercita-cita menjadi seorang white hat hacker? Berikutnya saya akan jelaskan tentang apa itu white hat hacker, black, dan seterusnya.

3. Orangtua yang Takut dengan Cita-cita si Anak

Seperti mendengar dentuman bom, ketika anak mendeklarasikan bahwa ia memiliki cita-cita ingin menjadi seorang hacker cilik

Seperti mendengar dentuman bom, ketika anak mendeklarasikan bahwa ia memiliki cita-cita ingin menjadi seorang hacker cilik

Jika Anda pernah mendengar dentuman bom baik secara langsung maupun dari televisi, apa yang Anda rasakan? Kaget, menjerit, berteriak? Atau malah diam seribu bahasa sanking kaget terkejut bercampur shock? Hehe.

Sebagian orangtua yang mendapatkan informasi setengah-setengah atau bahkan salah tentang apa itu profesi hacker, mungkin akan langsung shock dan terkejut ketika anaknya mendeklarasikan impiannya tersebut.

Apakah profesi hacker selalu identik dengan sesuatu hal yang buruk? Misalnya pencurian internet banking, pembobolan, peretasan website, penipuan online, dan seterusnya?

Sayangnya media saat ini lebih banyak yang menjenalisir bahwa hacker selalu identik dengan kegiatan yang melanggar hukum. Padahal nyatanya tidak semua demikian, bahkan ada loh yang berbuat kebaikan.

Hacker sendiri dibagi menjadi tiga golongan, yaitu white hat hacker (hacker si topi putih), black hat hacker (hacker si topi hitam), dan gray hat hacker (hacker si topi abu-abu).

Baca juga: Fake Login Facebook Tips Cara Menghindarinya

Sederhana sekali, mereka dapat dikenali berdasarkan aktivitas yang ia lakukan. Contoh jika hacker tersebut melakukan hal-hal yang baik, mulai dari membuat software untuk keamanan, melakukan penetrasi ke website atau server untuk melakukan audit keamanan terkait IT, dan seterusnya. Maka bisa disimpulkan hacker ini termasuk golongan white hat hacker atau hacker si topi putih.

Lalu ada juga hacker yang usil, jail, melanggar hukum, menjadi cyber terrorist, dan seterusnya. Ia melakukan tindakan-tindakan yang melanggar hukum.

Misalnya meretas suatu sistem jaringan tertentu, membuat program jahat yang berfungsi sebagai mata-mata, dan kegiatan-kegiatan cyber crime lainnya. Maka bisa disimpulkan hacker ini termasuk golongan black hat hacker atau hacker si topi hitam.

Ketiga yaitu golongan si topi abu-abu istilah kerennya adalah gray hat hacker. Ada yang mendefinisikan sebagai cracker, ada juga yang mendefinisikan sebagai aktivitas yang ia lakukan yang bersifat abu-abu.

Jadi terkadang melanggar hukum, terkadang juga menaati hukum. Mohon koreksi jika saya salah mendefiniskan di poin ketiga ini. Dari penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa hacker tidak selamanya bertindak melanggar hukum.

Baca juga: Jangan Mikir Soal Keamanan Komputer Jika Masih Pakai Antivirus Bajakan

Orangtua yang kebetulan membaca artikel ini, harus selalu melakukan update berita, membaca buku, sharing dengan orang yang lebih paham tentang IT, berdiskusi di forum onlinedan lain sebagainya.

Tujuannya agar mendapatkan banyak sudut pandang, sehingga lebih bijak dan dapat mengarahkan anak pada cita-cita yang mulia. Pada artikel ini saya tidak bermaksud menggurui siapapun, namun saya hanya sharing tentang apa-apa yang saya ketahui sedikit saja.

Pada artikel berikutnya saya akan membahas mengenai ciri-ciri anak yang memiliki kemampuan hacking. Namanya juga cita-cita, ada kemungkinan berubah pada suatu saat nanti, tapi bisa juga menjadi kenyataan karena ada panggilan dari hati (passion). Untuk itu sepertinya saya perlu membahas tentang ciri-ciri anak yang memiliki kemampuan hacking pada artikel selanjutnya.

Saya sudah nulis panjang lebar pada tulisan kali ini. Apakah tulisan saya bermanfaat untuk Anda? Jika iya, mohon bantu sebarkan tulisan ini di sosial media yang Anda miliki.

Terutama bagi mereka para orangtua yang memiliki anak yang sedang sekolah menengah maupun atas, agar membaca tulisan saya di atas. Semoga sedikit memberi pencerahan tentang apa yang dicita-citakan oleh si anak.

Tidak ingin ketinggalan artikel dari Situstarget.com (The Target Community)? Daftarkan nama lengkap dan alamat email Anda pada form subscribe di bawah artikel ini.

Setiap minggunya tim kami akan mengirimkan artikel terbaik dari Situstarget.com ke email Anda secara reguler. Jadi Anda tidak akan ketinggalan tulisan terbaru dari kami. Semoga bermanfaat. 🙂