Masih Mudahnya Anak-anak Mengakses Konten Pornografi dan Rentannya Mereka akan Serangan Siber

Anak-anak dapat dengan mudah mengakses internet melalui ponsel mereka. Orangtua tentunya tahu jika ada banyak hal yang dapat mengganggu mereka seperti konten pornografi dan serangan siber saat berselancar di internet.

Bahkan, saat chatting dengan mobile messenger seperti WhatsApp pun, anak bisa dengan mudah diarahkan ke konten yang tidak patut.

Biasanya, anak akan terjebak pada tulisan “Lihat” atau “Look At”yang menarik perhatian. Tautan dalam teks tersebut dapat mengarah pada konten promosi, pornografi, maupun kekerasan.

Orangtua harus mempersiapkan anak-anak mereka untuk itu dan memberikan wawasan pada mereka. Kebanyakan orangtua menyadari bahwa anak-anak prasekolah seharusnya tidak duduk di depan komputer maupun menggunakan ponsel mereka sendirian.

Namun, seringkali mereka semakin mudah berselancar di internet saat sudah bisa membaca. Setelah itu mereka mulai sesukanya menggunakan mesin pencari dan bisa menjelajahi internet. Bahkan tak sedikit yang coba-coba singgah ke situs yang tidak diinginkan.

Berikut beberapa tips untuk melindungi si kecil dari konten berbahaya seperti pornografi dan serangan siber selama ia berselancar di internet:

1. Data Pribadi Harus Dilindungi

Cara melindungi anak dari serangan siber salah satunya yaitu tidak berbagi informasi pribadi ke orang lain yang tidak dikenal di dunia maya

Poin terpenting yang harus orangtua ajarkan tentang pendidikan mengenai penggunaan internet, adalah anak harus belajar melindungi informasi pribadinya.

Data pribadi seperti; nama, alamat, foto, video, dan keberadaannya, juga tidak boleh dibagi. Bahkan dalam obrolan sekali pun. Hal ini bertujuan untuk melindungi anak-anak dari orang tidak bertanggung jawab yang berniat jahat pada mereka.

Anda harus mengajari anak-anak untuk tidak mengungkapkan apapun tentang identitasnya di internet. Namun, ada banyak situs-situs yang memerlukan registrasi atau login untuk dapat mengaksesnya.

Di sinilah peran orang tua dibutuhkan. Anak-anak harus memahami bahwa mereka tak boleh login ke situs apapun tanpa sepengetahuan orang tua. Contoh video dari Youtube di bawah ini cukup mengerikan, bagaimana predator anak dalam menjebak mangsanya melalui interaksi di sosial media.

2. Pembatasan Unduhan untuk Melindungi Anak dari Perangkat Lunak Berbahaya

Baik ponsel itu sendiri maupun app stores biasanya menawarkan pembatasan unduhan yang dilindungi kata sandi. Jadi, orang tua bisa menghentikan penggunaan software yang tidak aman bagi Anak.

Sebaiknya jika anak diberikan laptop, hak akses anak di sistem operasi Windows dibatasi dengan level standar, bukan administrator. Sehingga ia tidak bisa menginstal aplikasi yang notabene berbahaya.

Anda juga bisa menambahkan program aplikasi antivirus seperti: Eset, Norton, dan Bitdefender.

3. Batasan Usia pada Beberapa Penyedia Aplikasi

Orang juga harus tahu mengenai batasan usia anak dalam mengakses aplikasi tertentu

Beberapa aplikasi hanya dapat digunakan oleh seseorang yang minimal berusia 16 tahun. Hal tersebut sudah tertera dengan jelas pada detail aplikasi dan sesuai dengan syarat serta ketentuan bisnis.

Ada juga yang membatasi aplikasinya untuk anak minimal usia 13 tahun. Hal ini tentunya dapat menjadi patokan orangtua untuk menentukan apakah sebuah aplikasi cocok untuk anak atau tidak.

Contohnya Facebook melarang anak di bawah usia 13 tahun untuk menggunakan layanan mereka. Infonya lengkapnya bisa anda lihat di sini  “How do I report a child under the age of 13?”.

Baca juga : 5 Kemampuan Dasar Parenting di Era Digital yang Harus Dimiliki oleh Pasangan Muda

Aplikasi game tertentu juga ada yang membatasi penggunanya untuk usia kalangan di atas 18 tahun bahkan 21 tahun. Baik itu game PS, Nitendo, X-box, Smartphone, ada syarat dan ketentuan dari developer-nya.

Orangtua juga harus mengawasi dan mengelola aplikasi yang digunakan anak-anak mereka. Sehingga menghindari anak bermain game orang-orang dewasa.

4. Menggunakan Program Perlindungan Anak pada Komputer dan Smartphone Guna Melindungi Anak dari Serangan Siber dan Pornografi

Untungnya, berbagai program perlindungan anak untuk komputer tersedia, sebagai media pengamanan. Mac memiliki “Parental Control” yang terpasang pada sistem, yang dapat diaktifkan oleh orangtua jika anak sedang menggunakan komputer. Microsoft juga memiliki solusi serupa dengan “Windows Family Safety“.

Program parental untuk smartphone penting juga mengingat anak-anak jaman now sudah familiar dengan teknologi tersebut. Aplikasi tambahan yang parental control yang recommeded, yaitu K9 Web ProtectionQustodio, dan Opendns Family Shield.

5. Menggunakan Perangkat Lunak (Software) Perlindungan Anak

Ada berbagai program tambahan yang bisa dipasang pada komputer untuk meningkatkan perlindungan bagi anak-anak saat mereka mengakses internet seperti “Net Nanny” atau “Kaspersky Safe Kids“, yang bisa dipasang di PC, Mac, maupun ponsel.

Perangkat lunak ini atau yang serupa, dapat digunakan untuk membatasi penggunaan Internet dengan filter. Perangkat ini juga dapat membantu orangtua untuk memeriksa halaman yang dikunjungi anak serta mengatur waktu yang digunakan anak-anak di depan layar komputer.

6. Orang Tua Juga Harus Belajar Mengenai Teknologi Kekinian untuk Mengimbangi Anak

Orangtua juga harus belajar IT agar bisa menjaga dan mengawasi anak-anak mereka dari serangan siber dan pornografi

Tapi saat anak-anak bertambah umur dan menjadi lebih dewasa, program komputer dan perangkat lunak hanya dapat berlaku secara kondisional.

Di Youtube, Anda akan menemukan banyak sekali video tentang anak-anak cerdas di mana mereka menjelaskan bagaimana cara mengabaikan program perlindungan anak dengan beberapa trik sederhana.

Secara tidak langsung, hal tersebut membuat program perlindungan anak menjadi tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Selain itu, hanya beberapa orangtua yang memiliki pengetahuan komputer yang mumpuni, untuk dapat menyadari trik manipulasi ini.

Untuk alasan ini, kampanye perlindungan untuk anak-anak di atas usia sepuluh tahun dimulai di dua tempat. Pertama, bagi orangtua yang kurang paham tentang teknologi informasi dan komunikasi. Kedua, pada anak-anak dan remaja itu sendiri.

Baca juga : Tips Melindungi Android dari Virus dan Malware

Salah satu riset seperti studi Literasi Komputer dan Informasi Internasional menyimpulkan bahwa orang tua yang memiliki kecakapan dalam dunia teknologi informasi dan komunikasi biasanya juga kurang terlibat dalam pendidikan media untuk anak-anak mereka.

Jika anak-anak lebih mahir dalam menggunakan komputer, para ahli merekomendasikan bagi orangtua untuk duduk di depan komputer bersama-sama dan belajar dari anak-anak.

Pembalikan peran ini tentunya dapat mengarah pada diskusi menarik tentang penggunaan media.

7. Letakkan Komputer di Tempat Umum dan Terbuka di Rumah

Taruh komputer di tempat yang terbuka di rumah anda

Jangan meletakkan komputer di kamar anak. Letakkan komputer di tempat umum seperti di ruang tamu maupun ruang keluarga. Hal ini memungkinkan Ibu dan Ayah secara otomatis memiliki lebih banyak wawasan tentang aktivitas online anak-anak.

Nasihat terpenting dari para profesional adalah teruslah berbicara saat sedang berdiskusi dengan anak mengenai penggunaan media.

Lebih baik mendengar tentang kebodohan yang dibuat anak secara online daripada tidak tahu apa-apa. Hal paling berisiko adalah ketika anak mengakses website yang tidak diketahui orangtua sehingga tidak ada kontrol atas situasi rumit yang mungkin terjadi.

Baca juga : Bahaya Internet untuk Anak dan Tips Mengatasinya yang Semua Orangtua Harus Mengetahuinya

Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Lab Kaspersky dan B2B Internasional selama 12 bulan, 22% orangtua yang melakukan survei menunjukkan bahwa anak-anak mereka terkena dampak insiden siber.

Contoh insiden ini termasuk serangan cyber-bullying (Intimidasi dunia maya) dan situasi di mana anak-anak mereka tanpa sengaja membuka situs dengan konten yang tidak pantas maupun berbahaya.

Masalah serangan siber tidak bisa diatasi dengan teknologi saja. Orangtua harus bersikap proaktif saat menangani masalah ini dengan menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak mereka dan mendaftarkan anak-anak untuk kegiatan sekolah maupun olahraga.

Hal ini tentunya akan menyita waktu mereka, sehingga tidak banyak waktu yang mereka miliki untuk berselancar di internet.