Hemat saat ini berubah definisinya menjadi kearah yang negatif. Seperti hidup susah, serba sulit, pelit, dan seterusnya. Padahal dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia via KKBI.web.id arti hemat yaitu berhati-hati dalam membelanjakan uang, tidak boros, dan cermat dalam mengelola uang.
Tiga hari yang lalu saya berkempatan untuk silaturahmi dengan beberapa pengusaha muda di Kota Bandung. Alhamdulillah ada banyak sekali “bekal” yang bisa saya bawa pulang. Dan InsyaAllah saya akan tuliskan beberapa bekal tersebut di dalam blog TheGold.Asia. Salah satunya yaitu tips hemat ala milyader Bandung.
Bagaimana dalam kehidupan yang serba cukup dan serba ada. Beliau tetap memilih hidup sederhana dan hemat dalam membelanjakan uang yang ia miliki. Beliau memiliki aturan main dalam membeli barang konsumtif, yaitu dengan aturan sepersepuluh.
Maksudnya bagaimana? Ini hanya contoh saja ya. Jika ia ingin membeli misalnya sebuah jam, mobil atau smartphone baru seharga Rp. 500.000,- maka ia harus memiliki uang terlebih dahulu sebesar Rp. 5.000.000,-. Misalnya ia ingin membeli mobil baru dengan harga Rp. 200.000.000,- maka ia harus terlebih dahulu memiliki uang sebesar Rp. 2.000.000.000,-.
Aturan hidup yang menurut saya cukup menyulitkan ini ternyata sudah dilakukan oleh beliau sejak masih sekolah di bangku SMA. Sehingga ketika penghasilan naik, gaya hidup akan tetap tertinggal sebesar sepersepuluh dari penghasilan yang meningkat tersebut.
Bukan malah sebaliknya, rata-rata orang saat ini ketika penghasilan naik maka gaya hidup juga naik. Alhasil tidak sedikit yang terjelembab dalam pribahasa lebih besar pasak daripada tiang. Betul ya? Nah dalam proses penantian tadi yang cukup lama karena harus nabung dan produktif jika ingin membeli barang. Beliau bilang, pada saat itulah kita belajar arti dari kesabaran dan meredam ego diri kita.
Bisa Anda bayangkan ketika Anda sudah memiliki uang dan barang yang Anda inginkan sudah di depan mata. Lantas teman-teman seusia Anda sudah banyak yang memiliki barang tersebut. Contoh misalnya smartphone-lah. Ketika Anda masih memakai HP Jadul bertuliskan nokiem dengan layar berwarnia kuning. Sedangkan yang lain sudah menggunakan ponsel pintar BB, Samsul, Ipon, dan seterusnya.
Beliau mesti bersabar karena harus menabung terlebih dahulu hingga uang yang ia miliki besarnya 10 kali lipat dari barang yang ia akan beli. Banyak yang mencaci dan berusaha menghentikan prinsip yang dibilang “aneh” oleh teman-teman beliau sejak SMA hingga saat ini sudah menjadi milyader.
Beliau berpikir bahwa membeli barang konsumtif harus benar-benar diseleksi ketat. Jangan sampai sudah susah payah mencari uang. Namun malah menyesal di kemudian hari. Value inilah yang tertanam dan terus tumbuh dalam kehidupan beliau dan keluarga. Bahkan kali pertama Anda bertemu dengan beliau. Anda akan berpikir, “mana ada tampang orang kayanya?”

Lantas apakah Anda sendiri tertarik mencoba mengikuti gaya hidup beliau yang sederhana ini dengan aturan main sepersepuluhnya? Jika Anda setuju dengan pemikiran beliau maka bantu sebarkan artikel ini melalui Facebook, Twitter, Google Plus, Line, dan WhatsApp ya. Atau berikan komentar Anda melalui kotak komentar di bawah artikel ini.