Kasus beredarnya uang palsu bukanlah sesuatu yang baru khususnya Indonesia, tetapi tidak berarti hal tersebut lantas tidak menimbulkan keresahan masyarakat.
Meski kita tidak akan masuk penjara karena tidak sengaja memiliki uang palsu yang mungkin kita dapatkan saat melakukan transaksi belanja, uang palsu yang kita dapat tidak akan memberi manfaat apa pun walau nominalnya besar.
Baca juga: Business Model Canvas untuk Penggiat Startup Indonesia
Jika uang asli yang rusak masih bisa kita perbaiki dan akan dapat gantinya jika dibawa ke Bank Indonesia, tidak demikian dengan uang palsu.
Kasus uang palsu adalah kasus yang serius dan membutuhkan penanganan yang tidak main-main, terutama setelah melihat data yang menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada tahun 2014, jumlah pelaku uang palsu yang tertangkap sebanyak 81 orang dengan rincian 47 kasus dan 122.091 lembar uang palsu.
Baca juga: Hal-hal Menarik yang Anda Harus Ketahui Mengenai Harga Perak
Di tahun berikutnya, 2015, jumlah pelaku yang tertangkap sebanyak 119 dengan jumlah kasus 65 dan total 319.641 lembar uang palsu.
Sementara di tahun 2016 ini, pada Maret yang lalu saja sudah ditemukan sejumlah 55.441 lembar uang palsu. Benar-benar fenomena yang mengkhawatirkan, bukan?

Mengenali Ciri-Ciri Uang Palsu

Bagaimana pun, meski sepintas terlihat sama, tetap ada perbedaan antara uang asli dan uang palsu. Kita dapat mengamati ciri-ciri uang palsu melalui beberapa hal seperti berikut ini:

  1. Komposisi warna pada uang yang asli tidak patah-patah, tidak luntur, dan cerah atau tajam. Sementara pada uang palsu, warnanya cenderung pucat dan lutur, patah-patah, dan tidak secerah warna uang asli.
  2. Menurut Bank Indonesia, uang kertas asli memiliki Optical Variable Ink (OVI) di bagian kiri bawahnya (di samping tanda tangan Dewan Gubernur). Bagian tersebut dicetak dengan pigmen tinta khusus yang menyebabkan perubahan warna jika dilihat melalui sudut pandang yang berbeda.
  3. Benang pengaman di bagian belakang uang yang merupakan garis vertikal putus-putus pada uang asli juga memiliki warna yang akan berubah tergantung pada sudut penglihatan kita.
  4. Tekstur kasar pada bagian laambang negara, gambar pahlawan, huruf, dan angka pasti ditemukan pada uang asli, sementara pada uang palsu tidak akan ditemukan yang seperti itu. Jika kita meraba permukaan uang palsu pasti akan terkesan licin.
  5. Tanda air (watermark) akan selalu ada di setiap lembar uang asli. Jika kita menerawang uang asli ke arah cahaya, kita pasti akan menemukan gambar pahlawan di sisi kiri uang (di atas tanda tangan Dewan Gubernur).

Baca juga: Mengenal BitCoin: Mata Uang Digital yang Viral

Menghindari Uang Palsu

Sebagai masyarakat yang cerdas, kita perlu memproteksi diri sendiri agar sebisa mungkin terhindar dari ancaman sebagai korban uang palsu. Berikut ini adalah beberapa tindakan preventif yang dapat kita lakukan untuk menghindari uang palsu.

  1. Lakukan cara sederhana 3D (dilihat, diraba, diterawang). Setelah memahami ciri-ciri uang asli seperti yang telah diuraikan di atas, kita dapat mengecek dan membuktikannya dengan cara melihat ciri-ciri visual dari uang, meraba permukaannya, dan menerawang untuk menemukan watermark pada uang.
  2. Gunakan lup atau kaca pembesar jika ingin melihat lebih jelas bagian-bagian pada uang yang dapat dijadikan indikasi sebagai uang asli atau palsu. Atau jika ingin lebih canggih (biasanya ada di toko-toko), money detector dengan sinar UV juga dapat membantu mengenali uang palsu.
  3. Khususnya pada saat menjelang lebaran, orang berlomba-lomba mencari pecahan uang. Jangan sembarangan menukar uang di pinggir jalan dengan pihak-pihak yang menjajakan pecahan uang beraneka ragam. Lebih aman jika kita datang langsung ke kantor bank atau stan bank yang biasanya menggunakan mobil untuk melayani penukaran uang.
  4. Jangan mudah percaya kepada orang asing atau yang baru kita kenal yang menawarkan uang dalam jumlah besar.
  5. Jika hendak melakukan transaksi dalam jumlah yang besar, hindari penggunaan uang tunai. Lakukan saja via transfer. Selain itu, jika kita membawa-bawa uang tunai dalam jumlah yang cukup besar, kita juga menjadi sasaran empuk bagi perampok yang mungkin mengintai.
  6. Manfaatkan kehadiran uang elektronik alias e-money. Perkembangan zaman yang melahirkan inovasi canggih harus dapat kita manfaatkan sebaik mungkin. Sudah banyak pihak yang menyediakan layanan transaksi berupa elektronik, mulai dari bank, operator/provider, outlet belanja (biasanya bundling dengan member card), dan lain-lain. Selain berupa smart card, beberapa e-money kini hadir dalam wujud aplikasi yang dipasang di ponsel.

Baca juga: Tips Merencanakan Keuangan secara Tepat

Bagaimana Jika Terlanjur Menjadi Korban Uang Palsu?

Jika sudah terlanjur menjadi korban, jangan menggunakan uang palsu sebagai alat tukar. Segera laporkan ke pihak kepolisian atau Bank Indonesia agar uang tersebut tidak semakin luas menyebar.
Apabila kita tetap memaksa untuk membelanjakannya, bisa-bisa justru kita yang akan dicurigai sebagai pengedar dan penyedia uang palsu. Daripada memperpanjang urusan, serahkan saja kepada pihak kepolisian.
Pemerintah dan pihak kepolisian terus berupaya untuk memberantas kejahatan uang palsu. Umumnya, pecahan yang paling banyak dipalsukan adalah nominal seratus ribu dan lima puluh ribu.
Baca juga: 9 Tips Menghemat Uang bagi Mahasiswa
Sejauh ini, kasus peredaran uang palsu di Indonesia masih didominasi di Pulau Jawa. Kasus yang cukup menghebohkan beberapa waktu lalu adalah diringkusnya empat tersangka pencetak uang palsu di Jember, Jawa Timur, dengan total senilai 12 miliar.
Walaupun biasanya peredaran uang palsu cenderung lebih banyak dilakukan di daerah-daerah pinggiran untuk menghindari pengawasan dari bank sentral (Bank Indonesia) atau pihak kepolisian, bukan berarti kita yang berada di kawasan perkotaan bisa bernapas lega.
Kita harus tetap siaga dan cermat dalam mengenali setiap rupiah yang kita miliki.